Judul buku : Steve Jobs
Penulis :
Walter Isaacson
Penerbit :
Penerbit Bentang
Penerjemah : Tim Bentang
Tanggal terbit :
Oktober 2011
Jumlah halaman :
764 halaman
Sumber Ebook : http://la-in.blogspot.co.id/2014/04/download-ebook-steve-jobs-bahasa.html
Buku ini mengisahkan tentang riwayat hidup Steve Jobs dari lahir, meninggal, serta setelah meninggalnya, penemuan, dengan bersumber dari wawancara, riset, dan buku-buku Steve Jobs.
“Steve Jobs adalah tipe keras kepala, pantang menyerah dan
sangat idealis. Jobs selalu menciptakan produk yang sesuai dengan visinya yaitu
merubah dunia. Kita lihat sekarang, semua produk Apple adalah sesuatu yang
baru, bukan mencontoh dan menambah-nambahi fitur produk pesaing. Ide Steve Jobs
selalu orisinil dan selalu menjadi market leader. Walau harga produknya selalu
mahal namun produk Apple selalu digandrungi dan ditunggu-tunggu kehadirannya
oleh banyak orang. Itulah yang membuat Apple selalu berjaya dan mengeruk
keuntungan yang besar.”
Steve Jobs atau Steven Paul Jobs
terlahir dengan nama Abdul Latief Jandali. Ia lahir dari seorang ayah yang
berkebangsaan Suriah yang bernama Abdulfattah Jandali dan ibunya yang
berkebangsaan Amerika Serikat Joanne Simpson (née Schieble). Ayah biologisnya
adalah seorang profesor ilmu politik dan ibunya seorang patolog bahasa wicara.
Steven Jobs kemudian diadopsi oleh Paul dan Clara sepasang suami istri dari
California yang kemudian mengganti nama Abdul Latief Jandali menjadi Steven
Paul yang kemudian terkenal dengan nama beken Steve Jobs.
Steve Jobs lahir tanggal 24 Februari
1955 di San Francisco, California, USA. Ia memiliki saudari biologis yang
bernama Mona Simpson yang terkenal sebagai novelis.
Saat menjadi mahasiswa itulah
pikiran kritisnya mulai menyakan hal-hal seperti, apakah benar ini yang aku
inginkan, apakan kuliah ini memberi jawaban akan menjadi apa aku esok. Enam
bulan ia bertahan sebagai mahasiswa edan akhirnya ia membuat keputusan besar,
suatu keputusan yang sangat mempengaruhi karirnya di masa depan. Ia memilih DO.
Namun ia tetap mengikuti perkuliahan yang ia sukai dan ia anggap butuh di
kemudian hari. Ia mengikuti kelas kaligrafi.
Mendirikan Apple
Pada tahun 1974 Steve Jobs diterima kerja sebagai teknisi di
perusahaan yang mendesain circuit board, Atari. Dari sinilah kepiawaiannya
tentang komputer semakin terasah, ia memutuskan bahwa dunia yang dicarinya
telah ia temukan yaitu dunia komputer.
Pada tahun 1976 Steve Jobs mengajak teman lamanya Steve
Wozniak untuk mendirikan perusahaan IT dengan logo terkenalnya yaitu apel putih
yang tergigit. Ya perusahaan itu adalah Apple. Dengan Visi Ingin merubah dunia,
Steve Jobs memulai petualangannya.
Sepuluh tahun ia dan temanny abekerja keras membangun Apple.
Akhirnya Apple tumbuh menjadi perusahaan besar yang menguntungkan dengan jumlah
pegawai mencapai 4000 orang. Pada tahun 1986 Apple meluncurkan produk
andalannya berupa komputer pertama yaitu Macintosh.
Namun saat itu ditingkat direksi terjadi perbedaan visi yang
akhirnya memutuskan Steve harus diberhentikan. Ya dia dipecat dari perusahaan
yang dilahirkannya dan dibesarkannya. Suatu hal dan penghianatan yang sangat
menyakitkan. Bagi dewan direksi, keputusan ini adalah yang terbaik bagi Apple
karena menurut mereka Steve Jobs terlalu keras kepala dan temperamental.
Mungkin pemecatan Jobs dari Apple itu akhirnya membuat
dirinya memiliki banyak waktu dan pikiran untuk lebih bereksperimen menciptakan
produk yang kemudian diluncurkan saat ia menjabat sebagai CEO Apple lagi. Ia
juga memiliki kesempatan memiliki dua perusahaan lagi selain Apple yaitu Next
dan Pixar.
Jika saat itu ia tidak dipecat mungkin ia tetap sibuk
mengurusi Apple dan mungkin tidak memiliki dua perusahaan lagi selain Apple.
Walau dipecat, Steve tak lantas diam saja menerima takdir.
Ia kemudia mendirikan Next yang merupakan perusahaan komputer seperti Apple. Di
Next inilah ide-ide kreativnya dituangkan dan direalisasikan. Ide itu
seharusnya ia realisasikan bersama Apple namun apa dikata ia dipecat dari
Apple.
Karena harga produk Next terlalu mahal, walau sebenarnya
produknya sangat bagus namun tidak laku. Namun Jobs tidak patah arang, ia
melalui Next kemudian menciptakan sebuah sistem operasi yang dibutuhkan oleh
produk Apple saat itu dan Jobs mendesak Apple untuk membeli Next. Apple pun
membeli Next dengna harga 429 Juta dolar. Jobs kembali ke Apple dan diangkat
kembali sebagai CEO.
Selain Next, Jobs juga mengakuisisi Pixar yang hampir
bangkrut yaitu perusahaan animasi dengan komputer sebagai basicnya. Pixar
kemudian memproduksi film animasi berbasis komputer pertama yang berjudul Toy
Story. Film inipun sukses di pasaran bahkan sampai sekarang di televisi
Indonesia sering diputar.
Ketika Jobs kembali ke Apple tahun 1997, ia langsung membuat
dobrakan besar dengan meluncurkan produk fenomenal yang membuat Apple berjaya
di pasar saham yaitu iPod, iMac, iPhone, iPad dan iCloud.
Mungkin pemecatan Jobs dari Apple itu akhirnya membuat
dirinya memiliki banyak waktu dan pikiran untuk lebih bereksperimen menciptakan
produk yang kemudian diluncurkan saat ia menjabat sebagai CEO Apple lagi. Ia
juga memiliki kesempatan memiliki dua perusahaan lagi selain Apple yaitu Next
dan Pixar.
Jika saat itu ia tidak dipecat mungkin ia tetap sibuk
mengurusi Apple dan mungkin tidak memiliki dua perusahaan lagi selain Apple.
Berikut ini adalah sambutan Steve Jobs
pada acara kelulusan Mahasiswa Universitas Standford yang ditulis ulang oleh
penulis.
Dalam acara ini Steve Jobs mengungkapkan bahwa dirinya
sangat berterimakasih diberi kesempatan untuk menyampaikan sedikit kisah
hidupnya pada lulusan Standford dimana di baru pertama kali ini merasakan acara
wisuda karena dia memang tidak meluluskan kuliahnya di Reed College Portland,
Oregon.
Steve Jobs membagi kisah hidupnya menjadi tiga bagian :
Pertama : Menghubungkan titik-titik.
Seperti diulas diatas bahwa Steve Jobs
drop out dari perkuliahannya, hal ini dikarenakan sewaktu ia belum lahir, ibu
kandungnya yang saat itu masih mahasiswa tidak dapat meneruskan kuliah lantaran
telah mengandung Steve Jobs. Akhirnya ibu kandungnya bertekad bahwa Steve Jobs
harus diadopsi oleh keluarga yang pendidikannya minial sarjana agar tidak
seperti yang dialami ibu kandungnya.
Namun ternyata orang tua asuh Steve
Jobs yang mengadopsinya bukan dari kalangan sarjana. Ibu angkatnya juga drop
out dan ayah angkatnya tidak lulus SMA. Awalnya ibu kandung Steve Jobs tidak
setuju jika anak yang baru dilahirkannya diasuh oleh orang tua angkat itu.
Namun setelah orang tua angkat Steve Jobs meyakinkan ibu kandungnya bahwa
mereka akan membiayai kuliah Steve Jobs, akhirnya ibu kandungnya luluh.
Akhirnya sesuai janji orang tua
angkatnya, Steve Jobs diterima di perguruan tinggi Reed College University,
namun untuk membiayai kuliahnya mereka menghabiskan seluruh tabungannya yang
seharusnya digunakan untuk masa tua. Setelah perkuliahan berjalan enam bulan,
Steve Jobs bingung dengan tujuan hidupnya dan tak tahu akan menjadi apa dengan
kuliah itu, “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan
bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya”, begitulah alasan Steve Jobs.
Selain itu ia juga merasa bersalah
karena gara-gara ia memilih universitas yang mahal, ia malah menghabiskan uang
orang tua angkatnya.
Begitu ia memutuskan DO, ia langsung
berhenti mengikuti kuliah wajib. Ia tidak langsung meninggalkan kelas
perkuliahan namun ia hanya memilih untuk mengikuti mata kuliah yang
disenanginya salah satunya adalah kelas kaligrafi. “Masa-masa itu tidak selalu
menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar
teman-teman saya.
Saya mengembalikan botol Coca-Cola
agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil
melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare
Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti
rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.” Ungkapnya.
Perlu diketahui bahwa Reed College
memiliki kelas kaligrafi yang terbaik diseluruh kampus USA waktu itu. Steve
Jobs sangat menyukai belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif membuat
variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Bagi
Steve semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang
tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Sebenarnya Steve juga tidak tahu
apakah ilmu kaligrafi ini bermanfaat untuknya nanti. Namun hal itu terjawab
sepuluh tahun berikutnya dimana saat ia mendesain PC Macintosh atau Mac, ilmu
kaligrafi sangat berguna. Mac didesain memiliki tipografi yang cantik dimana
itu adalah sejarah pertama komputer memiliki tipografi cantik.
Seandainya saat itu ia tidak
mengambil kelas kaligrafi dan langsung hengkang dari kampus saat memutuskan DO
mungkin Mac tidak memiliki huruf dengan bentuk-bentuk yang indah. Dan itu juga
telah dijiplak oleh Windows. “Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan
mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah,” kata
Steve.
“Anda tidak akan dapat merangkai
titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke
belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan
terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan
hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya.” Imbuhnya.
Kisah Hidup Steve Jobs Kedua : Cinta
dan Kehilangan
Steve Jobs sangat mengandalkan
intuisi atau kata hatinya dalam melangkah. Ia akan melakukan apa yang dikatakan
oleh hatinya harus dilakukan dan tidak akan melakukan jika hatinya tak ingin ia
melakukannya walau itu sangat bertentangan dengan pemikiran orang kebanyakan.
Salah satunya keputusannya DO dari Universitanya.
Hal lain yang ia lakukan
karena memang ia ingin melakukakannya adalah mengotak-atik komputer. Ketika
usianya 20 tahun, Steve dan teman lamanya Woz mengawali Apple dari garasi rumah
Steve Jobs. Mereka berdua sangat serius dengan impiannya dan bekerja keras
mewujudkannya. Sepuluh tahun kemudian Apple berkembang pesat, dari hanya dua
orang itu, Steve dan Woz menjadi perusahaan yang mempekerjakan 4000 karyawan
dan memiliki nilai 2 miliar dollar.
Saat itu Apple baru saja meluncurkan
produk terbarunya yang sangat revolusioner yaitu Macintosh atau Mac. Steve Jobs
baru berusia 30 an. Dan terjadi hal yang sangat mengejutkan, ia dipecat. Ya,
Steve Jobs adalah orang yang mendirikan dan mengembangkan Apple telah dipecat
dari Apple oleh dewan direksi karena tidak sevisi dengan mereka. Ia dipecat
dari perusahaan yang dilahirkan dan dibesarkannya.
Hati siapa yang tidak sakit. Semua
media melipunya besar-besaran. Steve Jobs saat itu benar-benar kembali ke titik
terendah dalam hidupnya. Entahlah, ia tak tahui apakah ia akan bangkit atau
selamanya terpuruk. “Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang
harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi
sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard
dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh
publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley”.
Akhirnya Jobs menghidupkan lagi
semangat dirinya walau ia ditendang dari Apple namun ia masih mencintainya.
Kemudian ia mendirikan perusahaan komputer baru yang bernama Next, lalu ia juga
mendirikan Pixar. “Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam
hidup saya. Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama
NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi
istri saya”.
Dengan creativitas Jobs, Pixar
tumbuh menjadi perusahaan animasi berbasis komputer pertama yang sukses. Film
yang dibuatnya berjudul Toy Story adalah film yang sangat sukses.
Entah bagaimana selanjutnya, Apple
mulai tertarik dengan Next Comp, perusahaan yang didirikan Steve Jobs setelah
dipecat dari Apple dan karena pemiliknya adalah Steve Jobs maka iapun kembali
lagi ke Apple. Next menjadi jantung kebangkitan Apple yang sempat merosot citra
dan juga harga sahamnya gara-gara kinerja buruk dan gara-gara ditinggal Steve
Jobs. Ia pun dipilih lagi menjadi CEO Apple.
Mungkin Steve Jobs tidak akan
memiliki dua perusahaan yang bernilai lagi seperti Next dan Pixar jika ia tidak
dipecat dari Apple.
“Saya yakin takdir di atas tidak
terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai
pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda.
Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya
terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus
menemukan apa yang Anda sukai. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar
hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu
yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya,
teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah
menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin
lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan
berhenti.”
Itulah yang diungkapkan Steve Jobs
tentang hikmah yang bisa diambil dari ditendangnya ia dari Apple saat itu.
Kisah Hidup Ketiga : Kematian
Ketika Steve Jobs masih remaja, ia
sangat menyukai sebuah buku yang berjudul “The Whole Earth Catalog” dimana
isinya sebagian dan yang sangat dikenang oleh Steve Jobs adalah sebagai berikut
:
“Bila kamu menjalani hidup
seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.”
Ungkapan itu membekas dalam diri nya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir, ia selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri
sendiri, jika ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa
yang akan saya lakukan hari ini?
Bila jawabannya selalu “tidak” maka
itu artinya harus ada perubahan dalam dirimu. Hampir segala sesuatu-semua
harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat
menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Sama sekali tidak ada
alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. Jangan biarkan omongan
orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang
terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka
Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor
dua”.
Disampul belakang buku itu tertulis
“Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Steve
Jo yaitu bs sangat mengenang kata-kata itu dan membuatnya menjadi bahan bakar
agar dirinya semakin maju. Beliau juga berpesan pada mahasiswa Standford yang
baru lulus agar juga menerapkan prinsip itu yaitu “Stay Hungry. Stay
Foolish.”
Steve Jobs Meninggal
Dunia
05 Oktober 2011, Jobs harus pergi
meninggalkan dunia yang dicintainya, publik yang mencintainya, perusahaan yang
dicintainya dan impiannya yang mungkin masih belum tercapai. Jobs kalah
menghadapi kanker pankreas dan penyakit-penyakit lain yang terus mengganggunya
selama ini. Publik atau mungkin bisa saya sebut dunia, berduka atas kepergian
Steve Jobs.
Steve yang dulunya terkenal pemarah,
kini malah dianggap sebagai seorang yang visioner. Dalam keluarga, ia dianggap
sebagai ayah yang hangat. Bahkan publik banyak yang mengungkapkan rasa terima
kasihnya atas kontribusi Steve Jobs di dunia teknologi, tak terkecuali Mark
Zuckerberg sang pendiri Facebook. Jobs seolah menjadi seorang yang berbeda. Ya,
dia berubah menjadi orang yang lebih baik.
Itulah Biografi atau Kisah Hidup
Steve Jobs. Semoga kita bisa mengambil hikmah berharga dari biografi Steve Jobs
diatas.
No comments:
Post a Comment