Judul buku : ZIONISME - Gerakan Menaklukkan Dunia
Penulis :
Z.A. Maulani
Penerbit : Daseta
Tanggal terbit : April 2002
Jumlah halaman : 237 halaman
Sumber Ebook : https://serbasejarah.wordpress.com/unduh-e-book-sejarah/
Buku ini mengisahkan tentang Demokratisasi, Pembangunan Daerah, Konspirasi, dan Perang Afghanistan yang berhubungan dengan Zionisme.
“Zionisme adalah sebuah gerakan
politik ekstrim orang-orang Yahudi yang berupaya mendirikan sebuah Negara
Yahudi di Palestina. Dari Negara itulah gerakan tersebut diharapkan bisa
memerintah dunia seluruhnya. Zionisme berasal dari sebuah nama gunung “Zion” di
al-Quds dimana gerakan ini sangat berambisi untuk membangun Haikal (candi)
Sulaiman dan mendirikan sebuah kerajaan yang ibukotanya adalah al-Quds. Gerakan
Zionisme berkaitan erat dengan seorang tokoh Yahudi Austria “Theodore Herzl”,
yang dikategorikan sebagai pencetus pertama ide gerakan tersebut. Dan idenya
itulah yang menjadi landasan berdirinya gerakan Zionisme internasional.”
Gerakan Zionisme garis keras, berdiri setelah pembantaian
orang-orang Yahudi di Rusia, pada tahun 1882 M. Pada waktu itu Hitler dari
Jerman mengarang buku berjudul ” Mengembalikan orang-orang Yahudi ke Palestina
menurut ucapan Para nabi”.
Zionisme modern. Sebuah gerakan yang dinisbatkan kepada Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi Austria (1860-1904 M). Tujuannya yang pokok sangat jelas. Yaitu menggiring orang-orang Yahudi untuk mendominasi Dunia, diawali dengan mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina. Yahudi telah melakukan perundingan dengan Sultan Abdul Hamid tentang persoalan tersebut 2 kali, tetapi Sultan itu menolaknya. Sejak itulah Yahudi Internasional berusaha keras menjatuhkan Sultan Abdul Hamid dan menghapuskan khilafah islamiyah.
Herzl telah menyelanggarakan Konferensi Zionisme International pertama tahun 1897 M. Dia berhasil mengumpulkan orang-orang Yahudi se Dunia pada konferensi tersebut. Ia berhasil mengumpulkan pula cendekiawan-cendekiawan Yahudi yang mengeluarkan keputusan-keputusan yang paling berbahaya sepanjang sejarah dunia, yaitu “Protokolat Para Hakim Zionist”, yang diadopsi dari ajaran-ajaran kitab suci Yahudi yang telah diselewengkan. Sejak itu Yahudi mulai menata organisasi-organisasi mereka, sehingga mereka mampu bergerak dengan gesit, cerdik, lihai, dan tersembunyi untuk mencapai tujuan-tujuan destruktifnya, yang dampak dan akibatnya jelas sekali di depan mata kita dewasa ini.
Zionisme modern. Sebuah gerakan yang dinisbatkan kepada Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi Austria (1860-1904 M). Tujuannya yang pokok sangat jelas. Yaitu menggiring orang-orang Yahudi untuk mendominasi Dunia, diawali dengan mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina. Yahudi telah melakukan perundingan dengan Sultan Abdul Hamid tentang persoalan tersebut 2 kali, tetapi Sultan itu menolaknya. Sejak itulah Yahudi Internasional berusaha keras menjatuhkan Sultan Abdul Hamid dan menghapuskan khilafah islamiyah.
Herzl telah menyelanggarakan Konferensi Zionisme International pertama tahun 1897 M. Dia berhasil mengumpulkan orang-orang Yahudi se Dunia pada konferensi tersebut. Ia berhasil mengumpulkan pula cendekiawan-cendekiawan Yahudi yang mengeluarkan keputusan-keputusan yang paling berbahaya sepanjang sejarah dunia, yaitu “Protokolat Para Hakim Zionist”, yang diadopsi dari ajaran-ajaran kitab suci Yahudi yang telah diselewengkan. Sejak itu Yahudi mulai menata organisasi-organisasi mereka, sehingga mereka mampu bergerak dengan gesit, cerdik, lihai, dan tersembunyi untuk mencapai tujuan-tujuan destruktifnya, yang dampak dan akibatnya jelas sekali di depan mata kita dewasa ini.
Zion merupakan nama sebuah bukit
yang terletk di barat day Al-Quds (Yerusalem). Kaum Yahudi percaya, pada lokasi
tersebut, King Solomon (Nabi Sulaiman a.s.) pernah membangun istananya
(haikalnya) dan menyimpan banyak harta karun di bawah tanah tersebut. Harta
tersebut bukan hanya banyak sekali, namun memiliki daya magis yang sangat besar
sehingga mereka percaya akan bisa menjadi pemimpin dunia jika memilikinya.
Tepat di hari jatuhnya Yerusalem,
Godfroy de Bouillon mendirikan Ordo Sion yang kemudian melahirkan Ordo militer
Ksatria Templar. Semua ini balik ke Eropa setelah berhasil dikalahkan
Shalahudin Al-Ayyubi (1187). Di Eropa, mereka ditumpas King Philip Le Bell dan
Paus Clement pada 13 Oktober 1307.
Seiring dengan perjalanan waktu,
istilah ‘Zion’ tidak lagi menjadi nama tempat, namun juga sebuah nama gerakan
bagi orang-orang Yahudi Sekuler untuk mendirikan satu negara di Tanah Palestina
dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Nathan Bernbaum merupakan tokoh
Zionis-Yahudi pertama yang ‘menyeret’ istilah yang pada awalnya netral ini
menjadi begitu politis. Pada 1 Mei 1776 Nathan mencetuskan Zionisme sebagai
gerakan politik bangsa Yahudi untuk mendiami kembali tanah Palestina. Gagasan
Bernbaum didukung sejumlah tokoh Yahudi. Salah seorang tokohnya bernama Yahuda
Kalaj yang melemparkan gagasan mendirikan ‘negara Israel’ di tanah Palestina.
Dalam bukunya berjudul “Derishat Zion” (1826), Izvi Hirsch Kalischer
dengan getol mendukung Yahuda Kalaj dan memaparkan
kemungkinan-kemungkinannya.
Ide berawal dari Nathan Bernbaum ini
kemudian terus dimasak oleh tokoh-tokoh Yahudi sehingga menjadi rencana aksi
yang matang. Seorang Yahudi Jerman bernama Moses Hess, menyatakan jika untuk
menguasai Palestina, maka kaum Yahudi harus menggandeng orang-orang Barat dan
mempengaruhi mereka untuk mau kembali ke Palestina setelah kekalahan yang
memalukan dari umat Islam yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi beberapa abad
silam. Gagasan tokoh Yahudi ini akhirnya mendapat dukungan dari sejumlah tokoh
kolonialis Barat merasa memiliki irisan kepentingan yang sama, yakni untuk
menguasai wilayah Arab yang kaya.
Sejak itu maka mulailah orang-orang
Yahudi mengalir ke Palestina dan daerah sekitarnya. Apalagi keberadaan orang
Yahudi di Eropa sesungguhnya tidak disukai oleh orang-orang Kristen. Pada 1891
sejumlah pengusaha Palestina dengan nada prihatin mengirim telegram ke
Istambul, ibukota kekhalifahan Turki Utsmaniyah di mana kala itu Tanah
palestina merupakan bagian dari kekuasaannya. Dengan penuh nada cemas, para
pengusaha Palestina menyatakan imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayahnya akan
benar-benar jadi ancaman jika tidak dihentikan dengan segera.
Dan memang skenario jitu kaum Zionis berhasil, drama berjudul “WTC 9/11” itu berbuah manis. Stempel ‘terrorisme Islam’ yang berhasil diperoleh dari lakon tersebut semakin memudahkan mereka menebar petaka hebat di seluruh dunia. Dengan dalih memerangi ‘terrorisme Islam’, Zionis Israel memperluas aksi-aksi terorisme dan menghantam rival-rival mereka. Target berikutnya adalah negara penakluk Super Power Russia, yaitu Afganistan. Sebuah negeri miskin yang 95% penduduknya adalah buta huruf, konon adalah markas dedengkot terorris Osama bin Laden. Akan tetapi, pemeran utama atas lakon di Afgan adalah Paman Sam, negeri yang nota bene merupakan ‘adik kandung’ Zionis Israel. Dan hanya dalam hitungan hari, Afghanistan pun porak-poranda.
Tak puas dengan serangan ke Afghanistan, mereka berpaling ke Irak. Tuduhan awal dimulai dengan pernyataan bahwa Irak menyimpan dan memproduksi senjata pemusnah massal. Opini dibentuk, kekuatan sekutu dikonsolidasikan. Baghdad nyaris rata. Bangunan-bangunan penuh sejarah peninggalan peradaban Islam ‘disikat’ habis. Sementara AS dan sekutunya menggempur Irak, Zionis Israel terus melancarkan agresi militernya terhadap rakyat sipil Palestina. Dan seperti biasa, PBB menjadi penonton yang baik.
Gerakan ini mengadakan kampanye ke
seluruh dunia. Kaum Yahudi mencetak buku-buku yang kelihatannya ilmiah yang
menyatakan jika sebenarnya Tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan
kepada bangsa Yahudi. Buku-buku ini disebar ke seluruh negeri. Bahkan kitab
suci orang Kristen pun diberi catatan kaki yang banyak yang seluruhnya
menjadikan ayat-ayat Injil sebagai dukungan bagi berdirinya negara Israel di
Palestina.
Scofield adalah orang yang ditugaskan untuk memberi ribuan catatan
kaki pro-Zionistik di dalam Injil versi James yang menjadi Injilnya orang-orang
Barat. Berbagai kelompok kajian alkitab disusupi dan menjadikan orang-orang
Eropa yang tadinya memusuhi Yahudi menjadi kini banyak yang menjadi pendukung
negara Israel.
Di dalam masa-masa itulah Hertzl
menemui Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah dari kekhalifahan Turki
Utsmaniyah (1876-1909). Dengan segala bujuk rayu, Hertzl berusaha agar Sultan
mengizinkan oarng-orang Yahudi mendirikan negara Israel di Palestina. Jika
Sultan bersedia, maka para pemilik modal Yahudi di seluruh Eropa akan
memulihkan kas keuangan Turki Utsmani yang sedang kosong. Namun Sultan menolak
mentah-mentah hal ini sehingga Zionis-Yahudi menghancurkan Turki Utsmaniyah
lewat seorang agen Yahudi dari Tsalonika bernama Mustafa Kamal Pasha.
Hertzl menggelar Kongres Zionis
Internasional I di Swiss sebagai upaya penyatuan sikap tokoh Zionis Dunia.
Salah satu hasil kongres berbunyi: “Zionisme bertujuan untuk membangun
sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh
undang-undang.” Theodore Hertzl terpilih sebagai pimpinan gerakan ini dan
menulis dalam buku hariannya, “Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari
kongres Bassel itu dalam satu kalimat pendek, yang sungguh tidak berani saya
ungkapkan kepada masyarakat, saya akan berkata: ‘Di Bassel saya menciptakan
negara Yahudi!’” Protocolat of Zion yang berisi 24 strategi
Zionis-Yahudi menguasai dunia juga disahkan menjadi agenda bersama.
Selain menghancurkan kekhalifahan
Turki Utsmani, Yahudi Internasional juga bekerja siang-malam mempersiapkan
segala hal untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Pada 2 November 1917, Menlu
Inggris, Lord Arthur James Balfour, mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada
Pemimpin Komunitas Yahudi Inggris, Rothschild, untuk diteruskan kepada Federasi
Zionis, yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan pemerintahan Inggris yang
telah menggelar rapat Kabinet tanggal 31 Oktober 1917, atas permintaan bangsa
Yahudi untuk bisa mendapatkan tanah Palestina. Saat itu, sebagian terbesar
wilayah Palestina masih berada di bawah Khilafah Turki Utsmani, hanya saja
kekhalifahan ini sudah diambang kehancuran. Batas-batas yang akan menjadi
wilayah Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot, 16
Mei 1916, antara Inggris dan Prancis.
Kata-kata Deklarasi ini kemudian
digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat
untuk Palestina. Penyebutan Palestina sebagai satu-satunya nominator tempat
berdirinya negara Yahudi sebenarnya memiliki catatan yang panjang. Awalnya ada
sejumlah tempat yang dianggap bisa menjadi tempat berdirinya negara Yahudi di
Afrika dan Amerika Selatan, seperti Mozambique, Kongo, Afrika, Uganda, bahkan
Argentina dicalonkan pada 1897, Cyprus pada 1901, Sinai pada 1902, dan atas
usulan pemerintahan Inggris, Uganda diusulkan kembali pada 1903.
Pada 14 Mei 1948 Israel sebagai
sebuah negara dideklarasikan dan David Ben Gurion diangkat sebagai PM pertama.
PBB mensahkan negara Israel. Langkah PBB ini membuktikan kepada dunia jika
lembaga internasional tersebut mendukung penjajahan bangsa Palestina yang
dilakukan oleh Zionis Israel. Berdirinya Israel didahului upaya teror,
pembunuhan, dan pengusiran terhadap bangsa Palestina, pemilik sah atas Tanah
Suci tersebut.
Penyebutan tempat-tempat tersebut
mendapat tentangan keras dari para Rabbi Yahudi Konservatif. Apa yang digalang
oleh Hertzl dan kelompok Zionisnya dianggap sebagai gerakan sekularis yang
menunggangi agama Yahudi. Bahkan dalam Kongres Para Rabbi di Philadelphia-AS,
pada akhir abad ke-19, salah satu putusannya adalah menentang adanya satu
negara Yahudi yang dipaksakan. Menurut kelompok Rabbi Konservatif ini, Zionisme
merupakan gerakan sekuler yang berlandaskan Talmud, sebuah kitab iblis, dan
bukan Taurat Musa. Bagi para Rabbi, negara Yahudi akan didirikan pada akhir
zaman, yakni ketika Sang Messias Yahudi muncul dan memimpin orang-orang Yahudi
untuk mendirikan negaranya di Palestina. Bagi kalangan Zionis, berdirinya
negara Yahudi tidak harus menunggu kedatangan Messias di akhir zaman, hal ini
malah harus dilakukan secepatnya guna menyambut datangnya Messias. Inilah titik
tolak perbedaan pandangan antara Yahudi Zionis dengan Yahudi Anti Zionis yang
sekarang ini salah satu kelompoknya adalah Neturei Karta dan juga International
Jews Anti Zionist (IJAN).
Dr. Chaim Weizmann, jurubicara
organisasi Zionisme di Inggris dan pendukung utama Zionisme merupakan seorang
pakar kimia yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi. Aseton
diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan eksplosif yang sangat berguna
dalam semua persenjataan Inggris. Jerman diketahui telah memonopoli ramuan
aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa
menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite,
Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Dunia I. Sebab itu, Inggris
sangat berhutang budi pada Yahudi, khususnya kepada Weismann. Inilah mengapa
Inggris begitu mendukung kaum Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina.
No comments:
Post a Comment